Kabupaten Musi Rawas, Sumsel- Masyarakat masih banyak yang belum menyadari pentingnya jamban dalam keluarga. Hal ini menjadi salah satu faktor penyebab tingginya kasus penyakit diare dalam rentan tahun 2014-2016. Terdapat berbagai alasan yang digunakan masyarakat untuk tetap Buang Air Besar (BAB) sembarangan di Sungai atau Kebun, diantaranya anggapan bahwa membangun jamban itu mahal, lebih nyaman BAB di Sungai, tinja dapat untuk pakan ikan, dan lain-lain, sehingga akhirnya menjadi budaya yang menimbulkan anggapan tidak adanya efek samping berupa gangguan kesehatan.

Untuk mengantisipasi dampak buruk yang mungkin terjadi, Puskesmas Terawas Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Rawas menginisiasi inovasi bedah jamban sejak 16 Februari 2017. Tahapan dalam melakukan inovasi dimulai dengan cara menjalin kerjasama dengan pemerintah desa, PKK, Kader Kesling dan TOMA melalui Minilokakarya Lintas Sektor. Pendekatan dilakukan dengan Camat, Koramil, Kapolsek untuk menjalin kerjasama dalam kegiatan Bedah Jamban dengan membentuk tim terpadu.

Dampak dari pelaksanaan inovasi diantaranya yaitu dari 12 desa di kecamatan STL Ulu tersisa 1 kelurahan yang belum Open Defecation Free (ODF) / BAB sembarangan namun proses pembangunan jamban tersisa sebanyak 244 keluarga. Kasus penyakit diare secara keseluruhan mulai mengalami penurunan karena kesadaran masyarakat dinilai mulai tumbuh untuk memiliki jamban sehat, hal ini telah terlihat dari setiap pembuatan rumah baru, maka juga dibangun jambannya.

Bedah jamban telah direplikasi ke semua desa dalam Kabupaten Musi Rawas yang dikeluarkan Instruksi Bupati tentang Bedah Jamban, bahkan kerjasama dengan Baznas Kabupaten Musi Rawas mereplikasinya ke seluruh kelurahan dalam Kabupaten Musi Rawas dari 50 keluarga yang dibantu, bertambah menjadi 92 keluarga yang telah membangun jamban terbanyak di Kelurahan Terawas Kec STL Ulu Terawas dari 4 menjadi 34 Jamban.