Sampai saat ini tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah kesehatan yang penting di dunia. Dalam berapa tahun terakhir Indonesia termasuk dalam lima negara dengan jumlah kasus TB terbanyak di dunia. Tuberkulosis pada anak merupakan komponen penting dalam pengendalian TB oleh karena jumlah anak berusia di bawah 15 tahun adalah 40-50% dari jmlah populasi dan terdapat dan terdapat sekitar 500.000 anak di dunia menderita TB setiap tahun. Strategi nasional 2015-2019 terdapat 6 indikator utama dan 10 indikator operasional Program Pengendalian TB , 2 diantaranya adalah cakupan penemuan kasus TB anak adalah sebesar 80% dan cakupan anak.


Penanganan penyakit TB sendiri di puskesmas masih terbatas pada penemuan dan pengobatan. Belum adanya pelayanan yang berkesinambungan dan komprehensif yang melibatkan lintas program pada individu atau keluarga di tempat tinggal mereka untuk mencari sumber penularan penyakit TB pada anak dan menekan faktor-faktor resiko yang berperan dalam timbulnya penyakit TB. Maka dari itu, kami memutuskan untuk membentuk tim lintas program yang terdiri dari dokter, petugas gizi, petugas promkes, petugas perkesmas, petugas program penyakit TBC dan petugas laboratorium sebagai upaya komprehensif dan terpadu dalam upaya menekan angka penularan TBC pada anak.

Kami berinovasi dengan membentuk Tim Anti Maling (Anak TBC, Masyarakat dan Lingkungan dikunjungi). Tujuan utama program ini adalah menemukan secara dini dan mengintervensi faktor-faktor yang menyebabkan seorang anak penderita TBC bisa tertular penyakit tersebut. Dilakukan melalui kunjungan rumah pada anak-anak yang menderita penyakit TBC sehingga bukan hanya diobati tapi juga diperhatikan faktor-faktor yang berperan dalam sakitnya si anak, seperti faktor gizi, lingkungan, dan orang-orang di sekitar anak, yang pada kemudian akan diintervensi atau diperbaiki sehingga anak bisa sembuh dan penyakitnya tidak kambuh juga mencegah penularan kuman TBC tersebut pada orang lain terutama anak-anak.