BLC atau Broadband Learning Centre adalah program pelatihan komputer dan internet kepada masyarakat. Berbeda dengan pelatihan yang ada di kursus-kursus, BLC dilaksanakan di gedung perpustakaan, dilengkapi fasilitas yang memadai, dan tidak dipungut biaya pelatihan. Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi (BPAD) Kota Lubuklinggau bekerja sama dengan PT Telkom sudah mengembangkan program BLC sejak Juli 2013 dan hingga kini telah meluluskan 1370 peserta dari beragam latar belakang dan status sosial.

Landasan pelaksanaan inisiatif ini adalah kenyataan bahwa masih banyak warga yang belum memahami, bahkan belum pernah menggunakan komputer dan internet. Padahal di era teknologi informasi, kehidupan akan jauh lebih mudah dan praktis dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) melalui komputer dan internet. Rencana pembentukan program BLC sudah muncul sejak 2012, ketika perpustakaan masih berada di gedung lama, namun saat itu tidak bisa dilaksanakan karena keterbatasan ruangan.

Baru setelah perpustakaan mempunyai gedung baru pada tahun 2013, program BLC bisa terlaksana di lantai tiga gedung KPAD (sekarang BPAD), tepatnya pada 17 Juli 2013. Pihak Perpustakaan dan Telkom bekerja sama menyelenggarakan BLC, dan Telkom menyediakan perangkat komputer (15 unit), jaringan internet (10 mbps), dan proyektor, sedangkan Perpustakaan menyediakan tempat, program pelatihan, dan pelatih.

Kendala selain ruangan adalah kurangnya pelatih (pihak perpustakaan menambah pegawai kantor yang juga akan bertanggung jawab atas BLC dan melatih pegawai lama untuk dijadikan pelatih) dan penyusunan materi pelatihan (materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan peserta yang terdiri dari beragam latar belakang dan status sosial, yaitu UKM, anak putus sekolah, tentara, polisi, guru, rohis, dan pegawai kecamatan/kelurahan).

BLC sudah pernah dilaksanakan di pelbagai daerah (Palembang, Jambi, dan Jakarta). Pelatihan BLC secara resmi dilaksanakan oleh PT Telkom dan baru pertama kali BLC dilaksanakan di luar gedung milik PT Telkom, yaitu di Perpustakaan Kota Lubuklinggau. Awalnya BLC merupakan program kerja sama antara Perpustakaan dan Telkom, namun kini seperangkat fasilitas BLC sudah dihibahkan kepada Pemkot dan Perpustakaan ditugaskan mengelola fasilitas dan melaksanakan pelatihan BLC. Selain BLC, pihak CCFI (Coca Cola Foundation Indonesia) juga melaksanakan pembelajaran berbasis TIK dalam mewujudkan perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat.

Dengan komputer, warga bisa menemukan segala yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha, promosi produk, dan pemasaran. Namun untuk memiliki keterampilan menggunakan komputer dan internet, kursus komputer membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Permasalahan ini diatasi dengan penyelenggaraan pelatihan gratis pada peserta. Peserta akan mendapatkan pengetahuan yang cukup di bidang komputer (office dasar), menggunakan internet dalam menjaring informasi, media sosial, dan pemasaran. Pemanfaatannya, peserta pelatihan bisa langsung menerapkan pada upaya konkret di bidang usaha, dengan melakukan pemasaran produk secara online (contohnya, produk roti, kripik, kerajinan tangan rajutan, bros, dan keset kaki dari bahan bekas).

Peserta pelatihan yang sudah menyelesaikan pelatihan BLC memperoleh sertifikat pelatihan yang ditandatangani Walikota Lubuklingga dan Kepala Telkom. Perekrutan peserta pelatihan dilakukan pihak perpustakaan, secara langsung mengundang masyarakat melalui intansi pemerintah kelurahan, sekolah, pelaku UKM, dan PKK. Di samping itu undangan juga dilakukan secara online dan melalui iklan koran lokal. Peserta pelatihan dikelompokkan berdasarkan latar belakang pendidikan dan pemahaman dasar tentang komputer dan TIK. Untuk evaluasi dan umpan balik, peserta yang sudah lulus diminta menyampaikan pengalaman mengimpelementasikan keterampilan hasil pelatihan.

Perpustakaan bukan hanya tempat membaca atau meminjam buku. Paradigma baru perpustakaan, masyarakat bisa berkomunikasi secara elektronik. Hal ini mendorong peningkatan jumlah kunjungan ke perpustakaan yang akhirnya meningkatkan kualitas dan pelayanan perpustakaan. Keberadaan BLC di Perpustakaan Lubuklinggau berhasil menjadikan Perpustakaan Lubuklinggau meraih Juara Pertama Perpustakaan Terbaik Tingkat Nasional untuk Cluster B. Sejak Juli 2013 sampai dengan saat ini pelatihan BLC Perpustakaan Lubuklinggau telah meluluskan 1370 peserta dalam 92 angkatan (setiap angkatan terdiri dari 15 peserta). Pelatihan 

dilaksanakan selama empat hari kerja, pukul 13.00 sampai dengan 16.00, dengan materi office dasar, blog, email, media sosial, cara pemasaran dan pengembangan skill peserta.

Pemangku kepentingan terdiri dari Kepala BPAD Lubuklinggau dan stafnya, Pemkot, PT Telkom, sekolah, kelurahan, UKM, dan masyarakat pengguna. Sumber daya terdiri dari SDM, keuangan, dan teknis. SDM (BPAD dan pelatih), Keuangan (APBD dan kemitraan), dan teknis (pengoperasian sarana dan prasarana komputer).

Keluaran yang paling berhasil adalah peningkatan pemahaman warga terhadap pemanfaatan teknologi informasi (komputer dan internet) dan para lulusan perlatihan berhasil dalam kegiatan usaha. Suprayogi telah membuka rental komputer dan pemesanan tiket perjalanan/pembayaran listrik online; Henny membuka usaha bross, boneka, taplak meja, dan beragam kerajinan tangan melakukan pemasaran melalui media sosial; dan Bowo berhasil memanfaatkan blog dan facebook dalam memasarkan produk roti.

Sistem pemantauan yang dilakukan adalah registrasi lulusan pelatihan (nomor hp, email, dan kontak media sosial) dan kegiatannya, adanya kepedulian, berbagi pengalaman, penyempurnan materi pelatihan, umpan balik, dan pertukaran informasi Awalnya tidak ada kendala dan setelah pelatihan BLC berkembang, banyak peserta dari luar Kota Lubuklinggau yang berminat mengikuti pelatihan (biaya transportasi, menginap/sewa kamar, keterbatasan waktu, dan keterbatasan jumlah pelatih).

Kendala ini diatasi dengan bantuan informasi sewa rumah yang murah, pelatihan pada malam hari, dan penambahan pelatih. Kendala teknis adalah jaringan internet sering terganggu pemadaman aliran listrik, diatasi dengan penambahan kuota internet dan penyediaan generator/genset.

Manfaat pelatihan BLC di perpustakaan adalah masyarakat makin akrab dengan perpustakaan, meningkatnya gemar membaca, warga melek komputer dan internet, mencerdaskan warga, dan membuka kesempatan usaha warga sekitar perpustakaan (warung dan ojek). Pelatihan BLC berkelanjutan karena komitmen Walikota dan Kepala BPAD serta dukungan warga. Peluang replikasi besar dan perpustakaan di kabupaten/kota lain di Sumatera Barat bisa mereplikasi inovasi ini.

Pembelajaran yang diperoleh adalah pentingnya komitmen dan konsistensi pimpinan, dukungan semua pihak, semangat pantang menyerah, kemitraan dengan dunia usaha/swasta, penyediaan SDM pelatih yang berkualitas, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.

Rekomendasi, agar pelatihan BLC makin mantap, berkualitas, dan mendorong kepariwisataan. Ke depan, waktu pelatihan BLC gratis diperbanyak (kelas pagi, siang, sore, dan malam), terjadi perubahan pola pikir dan budaya kerja, meningkatnya kemitraaan dan partisipasi masyarakat, dan bukanlah mimpi, BPAD akan memiliki gedung baru tempat pelatihan BLC.