Era global menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, begitu juga pelajar di Kota Palembang, karena salah satu dampak negatifnya adalah kenakalan remaja khususnya di kalangan pelajar semakin mengkhawatirkan, seperti tawuran antar pelajar, pergaulan bebas, tindak kriminal, penyalahgunaan narkoba, degradasi moral dan etika.

Ditambah lagi rendahnya pemahaman dan penguasaan nilai-nilai agama membuat generasi penerus bangsa rentan melakukan berbagai tindakan yang dilarang agama, data menunjukan tingkat buta aksara Al-Qur’an pelajar masih cukup tinggi atau rata-rata 64%, dengan rincian SD mencapai 72 % dari 148.595 pelajar, SMP sebanyak 66 % dari 74.198 pelajar dan  SMA mencapai 54 % dari 45.397 pelajar.

Secara universal tujuan pendidikan di Indonesia, pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan agama sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007, dengan kewajiban seluruh jenjang satuan pendidikan menyelenggarakan pendidikan agama, yang berfungsi membentuk manusia Indonesia beriman dan bertakwa yang menyerasikan penguasaannya dalam iptek dan seni.

Dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, Dinas Pendidikan Kota Palembang melaksanakan inovasi “Jam Ke Nol dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Berbasis Sekolah” atau Jam Tampal Basah bagi seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta sejak tahun 2014.

Inovasi ini mampu menjadi solusi permasalahan buta aksara Al Qur’an, dimana terjadi peningkatan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al Qur’an, dengan target membentuk pelajar yang berimtaq dan menguasai iptek secara berimbang. Dan bagi yang non muslim, inovasi ini juga mampu memotivasi pengamalan ajaran agama secara baik dan tepat.

Materi pokok kegiatan Jam Ke Nol meliputi : Sholat Dhuha, Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an, materi Keagamaan dan budi pekerti, sedangkan bagi pemeluk agama lain disesuaikan. Dilaksanakan setiap hari pukul 06.40 WIB sampai 07.00 WIB.

Untuk menarik minat siswa mengikuti kegiatan ini, dilakukan inovasi, dengan metode dongeng, menggunakan audio visual, melalui seni drama, role play, puisi, nasyid, literasi, praktek ibadah, do’a dalam bahasa inggris, ceramah antar siswa, kuis berhadiah, serta bernyanyi (Lagu Kebangsaan, Nasionalisme dan Patriotisme). Kegiatan ini juga menjadi instrumen penilaian dalam pelajaran pendidikan agama bagi siswa, sehingga mendorong siswa untuk mengikuti kegiatan ini secara teratur.

Sumber pendanaan dialokasikan dari dana BOS sekitar 3 persen, APBD Kota Palembang, dan partisipasi pihak lain, seperti orang tua siswa dan perusahaan. Sedangkan sumber daya teknis, yang digunakan antara lain; pengeras suara, televisi, VCD/DVD, LCD projector, internet dan Al-Qur’an.

Selanjutnya, sumber daya manusia dari dinas pendidikan, Gerakan Umat Melalui Masjid Sumsel (GUMMAS) dan  DPD-BPKPRMI serta guru.

Inovasi tersebut, terbukti berhasil menurunnya angka buta aksara Al Qur’an, dari sebelumnya mencapai 64 persen dari 300.851 orang pelajar, setelah  program “Jam Ke Nol dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Berbasis Sekolah”, menjadi 31 persen.

Sementara keberhasilan inovasi tersebut tentu tidak luput dari sejumlah pihak yang berkepentingan yaitu, Wali Kota Palembang, Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Kantor Kementerian Agama Provinsi Sumsel dan Kantor Kementerian Agama Kota Palembang.

Inovasi ini, juga berperan mendorong pencapaian tujuan dari visi Palembang EMAS tahun 2018, khususnya dalam menciptakan masyarakat madani, berkarakter membangun dengan basis agama yang kuat mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Berkaitan juga dengan program penguatan pendidikan karakter yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Untuk mendukung keberlanjutan “Jam Ke Nol dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Berbasis Sekolah”, telah dilakukan kerja sama  penandatanganan MoU, antara Dinas Pendidikan Kota Palembang dengan Gerakan Umat Melalui Masjid (GUMMAS) Sumatera Selatan dan Dewan Pengurus Daerah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPD BKPRMI) Kota Palembang, sebagai mitra pelaksana.

Keberhasilan inovasi tersebut, telah menjadi contoh daerah lain yang datang untuk belajar kemudian mengimplementasikan, seperti DPRD dan Disdik Bangka Barat, DPRD Papua Barat, DPRD dan Disdik Kab. Musi Banyuasin, DPRD Bengkulu Selatan, DPRD dan Disdik Lampung Tengah, DPRD Kab. Tumanggung.