DESA Darmo berada di daerah dataran tinggi. Masuk wilayah kecamatan Lawang Kidul, bersama 7 Desa/Kelurahan lain. Jumlah penduduk di sana terdata 3.309 jiwa. Hampir 75% dengan mata pencaharian sebagai petani. Kebiasan berkebun secara mandah. Yakni menginap di lokasi kebun (talang). Jarak dari talang ke Desa ± 10-25 km. Waktu tempuh 1 sampai 2 jam dengan kendaraan roda dua.


Sejumlah persoalan harus dihadapi warga Desa Darmo. Paling menonjol pada 2016, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Ada 1 kasus kematian ibu akibat hypertensi kehamilan. Satu kasus lagi disebabkan terinfeksi kuman tetanus.

Angka itu merupakan angka tertinggi apabila dibandingkan dengan Desa/ Kelurahan lain di Kecamatan Lawang Kidul. Di sana, pelayanan kesehatan sudah ada Puskesmas Tanjung Enim. Hanya saja, jangkauan pelayanan ke Desa Darmo ini, paling jauh. Jaraknya 10 km dari Puskesmas.
Melihat kondisi yang ada, wajar kalau ibu hamil kesulitan memeriksakan kehamilan dan bayi yang baru lahir. Maklum, itu tadi. Mereka tinggal di Talang. Jauh dari fasilitas kesehatan. Ditambah lagi, faktor budaya. Masyarakat masih mempercayai dukun beranak dalam membantu persalinan.
Ditambah lagi, partisipasi masyarakat lintas sektoral memang rendah. Kader kesehatan belum dibekali pengetahuan yang cukup mengenai deteksi dini faktor risiko AKI dan AKB. Masing-masing bekerja sendiri. Hasil yang diperolehpun tak optimal.

Kepala Puskesmas Tanjung Enim, Gani tergugah dengan kondisi dan fakta tersebut. Dia menginisiasi sebuah inovasi. Namanya "Kader Cerdas Peduli AKi-AKB". Cerdas dimaksud mencakup makna Cepat Deteksi Keberadaan Ibu Hamil dan Bayi Sakit, Dampingi Pemeriksaan Kesehatan, SMS laporkan segera.

Sebuah pemikiran maju. Inovasi unik dan kreatif. Kolaborasi dunia usaha, pemerintah desa, masyarakat, dan media lokal. Tujuannya sederhana. Menurunkan AKI dan AKB. Ikut serta membangun kepedulian terhadap kesehatan terutama kesehatan ibu hamil dan bayi.
Sejumlah keunikan inovasi ini. Ada kantong persalinan dusun yang dikelola oleh istri Kepala Dusun selaku koordinator Kader Cerdas. Sebelum adanya inovasi ini, kantong persalinan dikelola oleh Bidan Desa. Dengan adanya kantong persalinan dusun maka tersedia data yang lebih akurat mengenai ibu hamil di setiap dusun.

Kesediaan masyarakat desa menjadi Kader Cerdas yang bertugas mendata ibu hamil dan bayi sakit. Melaporkan hasil pendataan melalui SMS kepada Bidan Desa, melakukan pengawasan serta mendampingi ibu hamil dan bayi sakit saat memeriksakan kesehatan ke fasilitas kesehatan.

Lalu, mendorong peran suami agar melaporkan kehamilan istrinya kepada Kader Cerdas dan Bidan Desa melalui SMS. Sekaligus menemani istri memeriksakan kehamilan.
Peran pemerintah desa? Ya, mereka mendukung dengan menyediakan alokasi anggaran Dana Desa untuk pengadaan sarana dan prasarana pelaksanaan kegiatan. Tak kalah penting dukungan pihak swasta. Dalam hal ini, dari PT. Manambang Muara Enim (PT. MME) berupa dana CSR. Digunakan untuk operasional Kader Cerdas dalam melakukan pendampingan ibu hamil dan bayi sakit ke fasilitas kesehatan.

Sebetulnya, bagaimana penerapan inovasi kader cerdas ini sendiri? Diawali dengan pembentukan dan pembekalan kader cerdas. Puskesmas Tanjung Enim mengusulkan Kader Cerdas berdasarkan kriteria tertentu. Masyarakat kemudian memilih sendiri Kader Cerdas untuk dusun masing-masing dan ditetapkan melalui SK Kepala Desa. Kader Cerdas kemudian dibekali dengan pengetahuan mengenai deteksi dini faktor risiko AKI - AKB.

Menjadikan dukun beranak sebagai mitra. Mereka wajib melapor kepada Kader Cerdas atau Bidan Desa apabila ada ibu hamil atau ibu hamil yang akan melahirkan. Perannya sebagai pendamping dalam proses persalinan.

Kader cerdas mengirimkan petugas kesehatan ke talang setiap satu minggu sekali. Tepatnya saat jadwal penimbang karet untuk memeriksa apabila ada ibu hamil atau bayi sakit. Kedatangan petugas kesehatan sekaligus menyampaikan agar ibu hamil yang usia kandungannya mencapai 6 (enam) bulan untuk tidak lagi menginap di talang dan pulang ke rumahnya di dusun.

Dengan adanya inovasi ini, kesehatan ibu hamil dan bayi sakit dapat senantiasa dipantau. Terutama untuk ibu hamil dengan risiko tinggi. Ibu hamil dan bayi sakit yang tinggal cukup jauh dari fasilitas kesehatan akan mendapatkan haknya dalam pelayanan kesehatan sehingga akan menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi di Desa Darmo yang akan berkontribusi pada penurunan AKI dan AKB di Kecamatan Lawang Kidul. (*)