Di sudut Puskesmas Sako, terlihat ibu-ibu sedang bermain ular tangga. Ini bukan permainan biasa. Permainan ini diikuti  ibu yang sedang hamil, menyusui dan ibu yang memiliki anak balita. Ada sekitar 5 hingga 10 peserta. Permainan ini dipandu petugas gizi dan konseling ASI dari Asi For baby (AFB) Sumsel sebagai motivator.

Masing-masing peserta secara bergantian melemparkan dadu dan berjalan di kotak sesuai angka yang keluar dari dadu. Jika dadu berhenti pemandu menanyakan berbagai hal. Mulai dari 1.000 hari pertama, ASI eksklusif, MP-ASI, Golden age pada bayi dan balita hingga perkembangan jiwa ibu, balita.

Peserta pun menjawab pertanyaan sang pemandu. Peserta lain diperbolehkan mengomentari jawabannya. Terjadi diskusi kecil dalam permainan tersebut.  Sangat menyenangkan, para peserta bisa bertukar pikiran.

Selanjutnya, pemandu dan kader posyandu memberikan penjelasan dari pertanyaan tersebut. Permainan terus dilanjutkan. Di akhir permainan, peserta ditanya dengan pertanyaan yang sama. Ternyata peserta yang sebelumnya menjawab salah, sekarang bisa menjawab dengan benar.

Permainan yang dipandu petugas kesehatan puskesmas dan komunitas ASI ini sudah dilakukan Puskesmas Sako sejak 2017 hingga sekarang. Permainan yang penuh inovatif, kreatif dan informatif ini mampu memberikan pengetahuan dan wawasan bagi ibu-ibu hamil dan menyusui.

Tak hanya itu, permainan ini mampu meningkatkan cakupan ASI ekskusif di wilayah yang didominasi pasangan usia subur (PUS) ini.  Jika sebelumnya, cakupan ASI ekslusif di 2016 hanya 63 persen dari target 83 persen mengalami peningkatan di 2017.  Cakupan ASI ekslusif mencapai 73,3 persen dari target 73 persen.

Permainan fun for mom ini cukup sederhana. Menggunakan alat yang tergolong sederhana dan murah. Untuk permainan ini hanya dibutuhkan meliputi tempat bermain berukuran 1 m x 0,5 m, dadu 1 buah dan penanda langkah. Hanya butuh dana Rp150 ribu untuk melakukan kegiatan ini. Dana ini menggunakan bantuan operasional kesehatan (BOK).

Walaupun dana yang dibutuhkan sangat minim, tetapi hasil yang diperoleh cukup maksimal. Pengetahuan ibu-ibu soal ASI, termasuk teknik menyusui semakin bertambah. Tak hanya itu, ibu-ibu pekerja pun lebih paham cara memompa dan menyimpan ASI yang baik dan benar.

Dampak lainnya, kesadaran ibu-ibu untuk memberikan ASI-nya pada sang buah hati meningkat. Bagi ibu yang bekerja, bisa mendapatkan pengetahuan pemberian ASI yang benar, proses penyimpanan ASI. Selain itu ibu-ibu mengetahui bahwa mitos soal ASI yang selama ini beredar di masyarakat adalah salah.

Jika permainan ini bisa diterapkan di puskesmas lain di Palembang tentu dapat meningkatkan kesehatan bayi dan anak. Karena ASI ini mampu mencegah gizi buruk dan stunting.

Masih diperlukan cukup banyak fasilitator yang berperan sebagai konselor ASI agar inovasi Fun For Mom berjalan optimal. Saat ini, hanya ada dua konselor, yakni konselor ASI dari ASI For Baby (AFB) dan petugas gizi puskesmas. (*)